Buletin BISA No. I/ 01/ 281112

“Untuk menjadi guru yang ideal, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu menawarkan cinta, kemauan untuk memahami, dan komunikasi untuk mempermudah penyampaian ilmu.” (Ciptono, Guru SLB N 2 Semarang saat Seminar Nasional Belajar Mendidik Indonesia: Menjadi Guru Inspiratif Melawan Keterbatasan untuk Mencerdaskan Bangsa)

Adanya Program Inklusi di Sekolah Belum dapat Diterima Siswa Normal

Pemberlakuan program inklusi pada beberapa sekolah belum mampu meretas perbedaan antara orang-orang normal dengan para kaum difabel. Hal ini dapat dilihat dari sikap siswa dan orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang menerapkan program inklusi

Memilih Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus

Proses pemilihan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus diperlukan kecermatan. Hal ini dikarenakan agar anak tersebut tidak merasa terpinggirkan ketika disandingkan dengan anak-anak normal lainnya

[Opini] Sekolah Inklusi

Bentuk dukungan bagi ABK bukan hanya terfokus pada diri sang anak, melainkan juga pada penciptaan lingkungan yang kondusif

[Profil] Ciptono Sang Guru Inspiratif

“Anak berkebutuhan khusus bukanlah produk Tuhan yang gagal, karena setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Melalui pengamatan dan kesabaran, anak yang dikarunia ketidaksempurnaan akan memunculkan kelebihan-kelebihan yang perlu dipoles dan dilatih”. (Ciptono)

Unordered List

Minggu, 30 Desember 2012

Pahlawan Tanpa Lencana

Oleh: Saifuddin Usman

Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berfikir hanya untuk sebuah keberhasilan
Tiada lafaz seindah tutur katamu
Tiada penawar seindah senyuman mu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Menabur benih kasih tanpa rasa lelah
Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajah mu
Semangat mu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu
Jika engkau akan melangkah pergi
Ku tau  langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu telah tiada dirimu kan selalu di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana

Sumber: http://meteorcom.wordpress.com/kumpulan-puisi-untuk-guru/

Jumat, 28 Desember 2012

Aku seorang Guru


Lihatlah… seharian,
aku telah diminta menjadi seorang aktor,
teman, penemu barang hilang, psikologi,
pengganti orang tua, penasihat,
hakim, pengarah, motivator,
dan pembimbing ruhani murid-muridku..

Meski tersedia peta,
grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku.

Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan,
karena murid-muridku sebenarnya hanya mempunyai diri mereka sendiri untuk belajar.


Sumber:  http://infogaya.blogspot.com/2012/03/puisi-guru-puisi-ibu-guru-dan-bapak.html

Kamis, 27 Desember 2012

Si Bungsu yang Baik Hati dengan Garamnya


Disuatu saat, satu orang ayah bertanya pada tiga orang anak; ‘ditanganku ada tiga buah benda, yaitu emas,uang dan garam. Menurut kalian yang mana yang paling berharga?’. Dua anak yakni yang sulung dan yang nomor dua memilih Emas. Sambil melihat sibungsu, kedua anak itu bertanya ‘yang mana yang kamu pilih?’. mereka menyangka sibungsu akan memilih uang, ternyata yang dipilih adalah garam. Karena yang dipilih sibungsu adalah  garam, hamper setiap hari sibungsi diejek dan  ditertawakan oleh kedua  kakaknya. Namun demikian, sibungsu tetap sabar. Sibungsupun bertanya kepada kedua kakaknya, menurut kalian apakah emas lebih berharga dari Garam? Sibungsu semakin dihina ketika mempertanyakan hal itu. “Makanlah garam itu sampai kenyang, jangan lupa sisanya disimpan baik-baik atau berikan saja pada anjing”. Begitulah ejekan dari kedua kakaknya.  Sekalipun dalam keluarga ini terlihat sepertinya tidak saling cocok dan selalu bermusuhan, tapi mereka sangat menataati setiap perintah ayah mereka. 


Suatu saat mereka ditugaskan untuk membuat jadwal masak. Supaya pembagian jadwalnya terkesan tidak curang, sang ayah  membuat undian.  Hasil dari undian itu ialah bahwa, untuk setiap hari senin dan selasa adalah tugasnya si sulung, hari rabu dan kamis adalah yang nomor dua dan hari jumat sampai sabtu adalah tugasnya sibungsu, sementara hari minggu mereka bersepakat untuk makan di luar. Tugas itupun dapat berjalan dengan baik. Si sulung dapat memasak dengan baik dan rasanya sangat enak. Begitu juga dengan  anak yang kedua.

Sekarang tibalah saatnya  si bungsu untuk memasak. Ayah mereka  sangat berharap sibungsu dapat memasak dengan baik supaya  makanannya dapat dinikmati dengan senang dan sibungsu bakalan tidak dihina lagi.
Waktu makanpun tiba semua menuju meja makan untuk makan bersama. Orang yang duluan mencicipi makanan dari setiap masakan adalah sanga ayah. Diasaat sangayah mencicipinya, sang ayah sangat kecewa, karena makanan yang  dimasak oleh sibungsu sangat tidak enak, namun sang ayah menyembunyikan perkara ini, sebab sang ayah tidak mau membuat sibungsu kecewa. Selanjutnya diikuti oleh sisulung, anak kedua dan sibungsu. Si sulung dan saudara mereka yang nomor dua itu, tiba-tiba langsung membuang nasi ke arah si-bungsu sambil menghinanya katanya makanan ini sangat tidak enak, kamu pasti tidak iklas memasak makanan ini.
Sibungsu tertunduk sambil menangis, tetapi sang ayah berusaha untuk menenangkan hatinya, lalalu kemudian memberikan kesempatan kepada  sibungsu untuk menejelaskan kenapa hal ini bisa terjadi. Sebelum sibungsu menjelaskan, sibungsu masi memberikan pertanyaan ‘bagaimana rasanya makanan yang saya masak?’ lalu serempak saudara-saudaranya menjawab ‘makanan mu rasanya tawar’, kemuian si nungsu memberikan penjelasan; memang benar kalau makanan ini rasanya tawar, saya sengaja membuatnya  seperti ini, karena saya tahu kalian tidak suka dengan garam dan bahkan kalian sangat benci dengan garam. Dari dulu bahkan sampai sekarang saya dihina cuman karena saya memilih garam. Oleh sebab itu, saya tidak memasukan garam sebagai bahan penyedap rasa kedalam makanan.
Mendengar penjelasan itu, kedua kakak sibungsu mulai merasa sadar, bahwa garamlah yang paling penting dari segalanya.

Pesan; cerita ini bukan menceritakan tentang garam, tetapi mengajak kita untuk jadilah seperti garam dan bersediahlah untuk dihina. Nama garam tidak akan disebut ketika makanan yang dimakan terasa enak. Orang malah bertanya; siapa yang masak makanan ini. Tetapi apabila makanannya tidak enak, maka nama garam akan terkenal sebab orang  akan berkata makanan ini rasanya tawar, mungkin mereka  lupa menaru garam atau garamnya tidak cukup.jangan perna menyesal ketika anda dalam hidup  ini sering tidak  dianggap sama sekali oleh  keluarga, teman dan atau siapa saja, karena suatu  saat mereka akan dengan sendirinya sadar bahwa dirimu adalah orang yang berarti.
Sumber: http://buletinfkip.blogspot.com/2012/04/mqari-berdongeng-bersama-fkip-uksw.html
 

Batara Kala (Dongeng Gerhana Bulan dan Matahari)

 Ada sebuah mitos tentang awal mula terjadinya gerhana matahari dan bulan:

Suatu hari Batara Guru, pemimpin para dewa mengundang semua dewa-dewi untuk meminum air suci di Surga. Air ini dinamakan Tirta Amertasari yang berarti "air abadi". Siapapun yang meminumnya tidak akan pernah mati, dan akan hidup selamanya.

Batara Kala (Kalaharu) adalah raksasa jahat yang sangat kuat. Dia selalu membunuh manusia, terutama anak-anak, dan semua orang takut padanya. Batara Kala tidak diundang karena kejahatannya. Namun, diam-diam dia terbang ke surga dan mencuri beberapa tetes air. Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan) mengetahuinya dan segera melaporkan ke Batara Guru. Batara Guru memerintahkan Batara Wisnu (Dewa Pemelihara Alam/Pelindung) untuk merebut kembali Tirta Amertasari. Kemudian Batara Wisnu mengambil senjata ampuhnya yaitu Chakra.

Ketika Batara Kala meminum Tirta Amertasari dan baru sampai ke kerongkongannya, Batara Wisnu keburu menebas batang leher Batara Kala dengan senjata Chakra. Batang tubuh Batara Kala melayang jatuh ke bumi, menjelma menjadi lesung kayu. Sementara kepalanya melayang diangkasa, tetap hidup abadi karena telah terlanjur meminum tirta amertasari.

Gambar: Para Warga sedang Memukul Lesung
Batara Kala tetap dendam pada Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan) yang telah memergokinya mencuri Tirta Amertasari. Batara Kala sangat marah dengan Batara Surya dan Batara Candra dan terus berusaha untuk menelan mereka, tetapi mereka selalu berhasil melarikan diri. Batara Kala menjadi marah dan setiap saat dia tidak pernah berhenti mengejar mereka.

Untuk menolong Batara Surya dan Batara Candra, Batara Wisnu memerintahkan para penduduk bumi agar memukul lesung kayu untuk membuat banyak suara saat terjadi gerhana, yang berarti sebagai pertanda bahwa munculnya Batara Kala. Suara itu akan membantu Batara Surya dan Batara Candra untuk melarikan diri dari Batara Kala. Hingga saat ini orang memukul lesung kayu/alat seperti penumbuk padi ketika mereka melihat gerhana. Inilah asal usul terjadinya gerhana matahari dan bulan menurut mitos. 
Sumber: http://gudangkartun.blogspot.com/2007/12/batara-kala-dan-gerhana-matahari.html