Unordered List

Kamis, 10 Januari 2013

Guru Inspiratif sebagai Jembatan Pendidikan Berkarakter untuk Indonesia yang Berkarakter


Oleh : Liska Rahayu
Gambar: Praktek Mengajar
 Mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalimat yang terdengar biasa, tapi memiliki makna yang luar biasa. Kalimat yang tak asing lagi kita dengar. Didengungkan di setiap upacara senin pagi, dari mulai kita duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sampai kita duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Selama 12 tahun kita menuntut ilmu, tanpa kita sadari, lingkungan kita, guru-guru kita dan konsep pembelajaran di sekolah kita dapat membentuk pribadi kita yang sesungguhnya. Karakter tumbuh dari sebuah kebiasaan. Kebiasaan dalam bersikap dan bertindak di arena panggung kehidupan.
Membangun pribadi yang berkarakter dan visioner berbasis pendidikan salah satunya adalah dengan membangun dan mengembangkan konsep pendidikan berkarakter di sekolah-sekolah sebagai institusi pendidikan di mana tonggak perdaban dialamatkan. Mengedepankan dan menjunjung tinggi moral knowing dan moral feeling bangsa Indonesia adalah dasar dari pendidikan berkarakter. Selama ini pendidikan di Indonesia, dimana guru sebagai model di dalam kegiatan belajar mengajar tidak berbasis pada pendidikan berkarakter. Pendidikan di Indonesia lebih berorientasi untuk menyiapkan seluruh siswa-siswinya menjadi ahli pemikir dan ilmuwan yang hanya cerdas intelektual tapi tidak diimbangi perkembangan karakternya.

Konsep pendidikan berkarakter, gaungnya baru terdengar kembali di tahun 2007. Entah kejadian apa yang mengilhami Indonesia untuk melangitkan kembali konsep pendidikan berkarakter, tapi tentunya semoga pendidikan berkarakter dapat berimplikasi pada sumberdaya manusia Indonesia yang berkarakter. Di awal eksistensinya, konsep pendidikan berkarakter tidak berjalan dengan mulus, muncul masalah dari para akademisi di mana dalam hal ini adalah guru. Ketika dihadapkan pada kurikulum pendidikan berkarakter, kebanyakan dari mereka para pendidik bingung dalam menginterpretasikan kata “berkarakter” itu sendiri. Ini adalah potret nyata pendidikan Indonesia bahwa selama ini pendidikan di Indonesia hanya pandai mencerdaskan otak, namun gagal dalam membentuk siswa yang berkarakter. Cerdas itu penting, tapi berkarakter jauh lebih penting.
Pemberdayaan sumber daya manusia multiaspek berbasis pendidikan salah satunya dengan mengembangkan konsep pendidikan berkarakter. Pendidikan berbeda dengan pengajaran. Jika pendidikan adalah education dalam konteks character building maka pengajaran adalah conveying knowledge atau transfer pengetahuan. Semua orang bisa menjadi guru, tapi menjadi guru yang inspiratif tidak semua orang bisa. Menjadi guru inspiratif adalah guru yang mampu menggerakkan, mengubah dan tentunya menginspirasi murid-muridnya untuk bergerak maju membawa estafet peradaban Indonesia yang berkarakter. Guru inspiratif umumnya lahir dari mereka yang benar-benar concern terhadap kemajuan dunia pendidikan di mana orientasi pembentukan karakter siswanya lebih diutamakan dibanding sebatas mentransfer pengetahuan.
Menumbuhkan self motivation untuk memiliki pribadi yang berkarakter adalah langkah awal dalam kesuksesan pendidikan berkarakter. Untuk menempa menjadi pribadi yang berkarakter kita perlu memahami diri kita terlebih dahulu. Pendidikan berkarakter salah satunya dapat dibentuk oleh guru yang berkarakter. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter. Membangun pendidikan berkarakter adalah seperti merangkai kepingan puzzle yang berserakan. Kita sebagai pendidik tidak tahu keunikan-keunikan masing-masing anak, maka tugas kita sebagai pendidik adalah menemukan keunikan dari masing-masing anak tersebut dan mengembangkan keunikannya untuk menjadi sebuah karakter hebat dalam diri mereka. Darinya daharapkan mereka tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas spiritual.
Menurut UU no. 20 tahun 2003 pasal 3 menyebutkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. Ada 9 pilar pendidikan berkarakter, di antaranya adalah : Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; Tanggung jawab; Kedisiplinan dan kemandirian; Kejujuran, amanah dan kearifan; Hormat dan santun; Dermawan; Suka menolong dan gotong royong/ kerjasama; Percaya diri, kreatif dan bekerja keras; Kepemimpinan dan keadilan; Baik dan rendah hati; Toleransi kedamaian dan kesatuan.
Tidak ada anak-anak yang bodoh, hanya saja belum menemukan guru yang tepat. Jangan pernah menjadi guru jika tidak berani menjadi teladan. Menjadi guru inspiratif diharapkan mampu menebarkan energi-energi positif dalam membawa nafas perubahan untuk membentuk bukan hanya pendidikan yang berkarakter, tapi juga siswa yang berkarakter untuk Indonesia yang berkarakter.
Konsep belajar pendidikan berkarakter tidak hanya sebatas memberi atau mentransfer pengetahuan di dalam kelas tetapi juga pengenalan lingkungan sekitar untuk menumbuhkan kepekaan emosional terhadap perkembangan psikologi mereka. Sekolah yang baik bukan sekolah yang bertabur fasilitas tapi sekolah yang mampu menetaskan bibit-bibit berkarakter untuk Indonesia yang berkarakter. Pendidikan berkarakter sejatinya adalah terintegral dan kompherensif. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang dan gagal dalam membentuk pribadi yang berkarakter.
Sebagai guru diharapkan mereka mampu memegang prinsip care, share and trust! Care artinya peduli dengan perkembangan karakter mereka, karena karakter berawal dari sebuah kebiasaan maka tugas kita sebagai pendidik adalah memantau dan mengarahkan karakter mereka ke arah yang lebih baik. Manusia pada hakikatnya butuh apresiasi, apresiasi adalah wujud kepedulian kita kepada siswa-siswi.
Guru inspiratif setidaknya mampu memberikan jejak-jejak kehidupan bagi mereka yang mampu menginspirasi langkah mereka. Belajar menginspirasi untuk bisa membawa nafas perubahan bagi mereka. Bagi mereka yang lebih baik. Baik kehidupannya, baik etikanya. Tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas spiritual. Karena mereka adalah tunas-tunas muda Indonesia penerus bangsa. Tunas-tunas nusantara yang akan tumbuh menghijaukan peradaban dunia. Tunas-tunas nusantara yang mampu berbaur denngan masyarakat dunia dengan tetap menonjolkan karakter bangsa Indonesia. Mareka adalah pelukis wajah-wajah masa depan Indonesia.
Sumber: http://www.gadjahmadamengajar.org/guru-inspiratif-sebagai-jembatan-pendidikan-berkarakter-untuk-indonesia-yang-berkarakter/<!--[if gte mso 9]> Normal 0

0 komentar:

Posting Komentar