Unordered List

Kamis, 10 Januari 2013

Kebiasaan Berpikir Positif bagi Remaja

Oleh: Erna Erviana Purnama Sari
Pikiran akan menghasilkan sikap, sikap menghasilkan kebiasaan, kebiasaan menghasilkan karakter atau akhlaq, dan akhlaq menentukan nasib. Jadi, nasib kita ditentukan oleh pikiran (selain oleh kehendak Allah). Jika kita ingin mendapatkan nasib yang baik, maka perbaiki pikiran kita. Dengan pikiran yang positif, akan membuahkan hasil yang positif pula. Padahal tidak dipungkiri, kebanyakan orang lebih mudah berpikir negatif daripada mencoba untuk berpikir positif.
Kondisi psikologis yang positif pada diri individu dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan beragam masalah dan tugas. Berpikir positif juga membantu seseorang dalam memberikan sugesti positif pada diri sendiri saat menghadapi kegagalan, saat berperilaku tertentu, dan membangkitkan motivasi.
Seseorang yang selalu berpikir positif maka ia akan cenderung optimis, baik itu optimis dalam berpikir maupun bertindak. Individu yang optimis berarti dirinya memiliki paradigma pemikiran dengan arah dan tujuan nyata dalam menangapi setiap masalah yang dihadapi.
Ada pula efek negatif dari berpikir positif. Ini biasa dialami remaja dalam situasi tertentu. Berpikir positif kurang tepat bila diterapkan pada situasi yang menuntut anak untuk berprestasi (Goodhart, 1985). Karena anak yang terlalu berpikir positif untuk beprestasti akan menunjukkan prestasi yang kurang baik bila dibandingkan dengan anak yang berpikir negatif. Seorang anak yang terlalu berpikir positif akan menjadi kurang termotivasi untuk berusaha keras agar berprestasi, karena tingkat kekecewaan pada dirinya rendah. Anak akan menggampangkan hal yang belum didapatkannya, bahkan mungkin akan menganggap remeh suatu  hal. Dapat dikatakan anak terlalu percaya diri, tetai rasa percaya diri yang tinggi membuat anak akan Sebaliknya, seorang anak yang cenderung berpikir negatif akan berusaha dengan keras dan memiliki motivasi yang kuat untuk menghindari hasil yang buruk karena pikirannya dihantui oleh rasa negatif akan prestasi yang buruk menimpanya.
Berpikir positif ketika tidak tahu tujuan hidup akan membuat seseorang menjadi semakin mudah sampai pada tempat yang salah (Covey, 1997). Seseorang harus sudah yakin dengan kebenaran arah tujuan hidup yang akan dicapai. Artinya, dalam melakukan sesuatu harus sudah yakin dengan kebenaran pandangan-pandangan yang diikuti. Jika yang dilakukan itu salah dan berpikir positif terhadap kesalahan maka akan memperoleh hasil yang negatif mempercepat ke arah tujuan yang salah.
Seorang anak yang berpikir negatif terhadap orang lain ataupun terhadap situasi yang cukup berat bukan berarti dirinya tidak dapat berpikir positif. Hal ini dapat diubah dengan cara berpikir negatif menjadi berpikir positif. Namun dalam proses pelaksanaannya membutuhkan waktu dan latihan untuk membuat kebiasaan yang baru ini. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan agar anak lebih optimis dalam bersikap dan memiliki pikiran yang positif (Peale: 2008):
1.  Percayai Diri Sendiri
   Salah satu masalah yang menghantui para remaja saat ini adalah kurangnya rasa percaya diri. Inferiority complex juga dapat berarti sangat meragukan kemampuan diri sendiri. Seseorang yang sudah mengalami inferiority complex atau tidak percaya diri akan mencegah dirinya untuk dapat menggapai harapan dan cita-citanya. Hal ini dapat dibatasi dengan mengisi pikiran dengan keyakinan sepenuhnya hingga meluap menjadi aktivitas fisik yang sadar serta mengembangkan keimanan kepada Tuhan. Dan hal ini akan memberikan keyakinan nyata terhadap diri sendiri. Mengembangkan keimanan dapat dilakukan dengan berdoa, membaca kitab suci hingga pikiran kita dapat menyerap isinya. Doa yang dapat menghasilkan kualitas keyakinan untuk mengikis inferiority complex harus benar-benar alami dari dalam  hati nurani. Jika berdoa hanya dijadikan formalitas, tidak cukup kuat untuk membuang inferiority complex.
   Jika kita berpikir bahwa penampilan maupun kemauan kita berada di bawah orang lain, maka kita akan merasa minder. Tapi jika pikiran kit amengatakan bahwa kita memiliki potensi yang sama dengan orang lain, maka kita akan percaya diri.
   Ada orang yang menyebutkan bahwa ketidakpercayaan diri merupakan bawaan sejak lahir, hal itu boleh dikatakan benar. Tetapi tidak semua orang yang mengalami inferiority complex merupakan bawaan dari lahir. Hal itu tergantung pada pola perkembangan dan lingkungan sekitar.
2.  Menerapkan Sikap Periksa Diri
   Setiap kali kita berpikir bahwa kita akan mengalami suatu peristiwa buruk atau tidak akan sukses dalam melakukan suatu hal, maka segera singkirkan pikiran itu dan tanamkan pikiran-pikiran positif untuk menghadangnya. Initinya, berfokus pada hal positif yang akan dihasilkan dan melakukan pemeriksa diri atau menata ulang diri sendiri. Jika pikiran negatif lebih banyak, maka segera alihkan dengan pikiran positif. Semakin sering kita berlatih menggunakan sikap mental positif, semakin cepat kita menyadari munculnya pikiran negatif.
3.  Mengikuti Gaya Hidup Sehat
   Olahraga yang rutin dapat mengubah suasana hati menjadi positif. Pola makan yang sehat juga akan mempengaruhi pikiran dan tubuh. Secara tidak langsung, tubuh akan dapat mengelola stres yang ada pada pikiran. Tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, maka akan juga tertanam pikiran yang positif, sebab pikiran yang jernih juga datang dari hal yang bersih. Jika tubuh sehat, maka ketika melakukan suatu tindakan juga berdasarkan hati yang jernih maka akan timbul pemikiran yang positif.
4.  Menjaring Relasi dengan Teman yang Positif
   Sebagai makhluk sosial, manusia ditakdirkan hidup bersama dengan orang lain. Menjaring relasi dengan orang-orang yang berpikir positif akan mendatangkan hasil yang positif. Pikirkan yang positif itu seperti penyakit yang menular. Orang-orang yang memandang kehidupan dengan positif merupakan orang yang optimis dan selalu mendukung kita dengan memberi saran yang baik. Sebaliknya jika kita berada di lingkungan orang-orang yang berpikir negatif, maka akan meningkatkan stres dan bahkan akan membuat kita ragu untuk mengelola stres dengan cara yang sehat dan berpikir logis. Memahami lebih dahulu kelemahan dan kekurangan diri sendiri, memahami dan menerima kekurangan dan kelebihan orang lain, maka seseorang sudah memiliki kunci untuk memasuki jaringa pergaulan yang positif, saling pengertian, toleransi dan saling menguntungkan.
5.  Lebih Peka dalam Menghadapi Sesuatu
   Lebih peka terhadap masalah-masalah potensial berarti lebih siap dalam menghadapinya. Seseorang yang terbiasa menghadapi suatu masalah, jika dihadapkan pada masalah yang berat, dirinya masih bisa untuk mengatasinya. Penyelesaian masalah dilakukan dengan lebih mengetahui masalah tersebut. Jika masalah dipahami lebih dalam, maka akn mudah untuk mengatasinya.
   Ini juga berlaku ketika kita peka terhadap pengalaman-pengalaman positif. Apabila selalu menanggapi kegiatan yang baru dialami di kehidupan kita, maka akan memperoleh sesuatu hal yang baru.
6.  Memiliki Rasa Bersyukur
   Kehidupan di dunia ini akan lebih indah dijalani dengan rasa syukur. Memiliki rasa syukur berarti mensyukuri atas apa yang diterima, hal baik ataupun buruk. Rasa syukur merupakan salah satu cara dari berpikir positif. Seseorang selalu memiliki target dari apa yang diinginkan, tapi jika target itu tidak bisa dicapai, disini pikiran positif memiliki peran yang penting karena akan dapat membangun dan memperkuat kepribadian seseorang untuk dapat mengambil hal-hal yang baik atau hal positif dari setiap kejadian yang diterima. Menghadapi situasi yang dapat kita kendalikan dan berupaya menerima situasi yang tidak dapat kita kendalikan.
7.  Memiliki Rasa Humor
   Mencoba untuk tetap tersenyum dan tertawa, khususnya pada saat menghadapi masa yang sulit. Rasa humor  akan membantu seseorang untuk mendapatkan pikiran, emosi, dan perilaku yang lebih positif. Hal ini dikarenakan, seseorang yang memiliki rasa humor tidak menghadapi masalah dengan pikiran yang terlalu berat dan memandangnya dengan pikiran yang tenang dan positif. Rasa humor yang dimiliki akan mengimbangi beban mental yang ada di dalam pikirannya.
8.  Mencatat Hal Baik yang Dialami
   Selalu mencatat hal baik yang dialami selama melakukan aktivitas seharian. Semakin banyak hal baik yang dialami, berarti semakin positif pula sikap kita. Mungkin cara ini dimaksudkan agar menjadi kebiasaan dalam melakukan hal baik.
9.  Menaati Aturan Sederhana
   Kita harus memiliki prinsip dalam hidup.  Jangan pernah mengatakan apapun kepada diri kita  sesuatu yang tidak ingin kita katakan pada orang lain. Tidak semua orang menyukai apa yang kita katakan. Sesuatu yang benar dimata kita, belum tentu itu benar dimata orang lain ataupun sebaliknya. Jika kita mengatakan hal yang tidak ingin kita katakan, dan orang lain tidak menyukainya hal ini akan merusak hubungan yang positif.  Hubungan yang positif terjalin bukan hanya karena kita dapat memahami orang lain, tetapi juga bagaimana orang lain dapat memahami kita. Karena itu perlu diterapkan aturan sederhana.
Seseorang yang sudah dapat merasakan efek dari berpikir positif itu sendiri, kemudian dirinya dapat membiasakan berpikir positif dalam tahap kegiatan yang dilakukan. Jika berpikir positif itu menjadi kebiasaan, maka akan membentuk karakter, yang kemudian akan membentuk kepribadian pada diri mereka.

DAFTAR PUSTAKA


R. Covey, Stephen.,Thomas Moore, dkk.  1997. Quest: The Spiritual Path to Success. United States: Simon & Schuster AudioBook.

Vincent Norman, Peale. 2008. Berpikir Positif untuk Remaja. Yogyakarta: Baca.

0 komentar:

Posting Komentar