Unordered List

Kamis, 10 Januari 2013

Mengajar dengan Cinta

Gambar: Guru PENJASORKES sedang Mengajar Senam di Lapangan
Tugas utama guru sebagai agen pembelajaran adalah mengajar siswa di kelas yang diampunya. Ketika mengajar, seorang guru tidak bekerja sendirian melainkan membutuhkan kerja sama orang lain yakni siswa yang diampunya. Sebab itu apabila guru mampu memasukkan unsur cinta ketika mengajar, maka hasilnya tentu akan lebih baik dan membahagiakan.
Mengajar dengan cinta merupakan salah satu upaya untuk memudahkan guru mencapai keberhaslan. Seperti telah umum ketahui, bahwa sebagai agen pembelajaran, guru tidak bekerja sendirian. Dia membutuhkan kerja sama dan dukungan dari orang lain, terutama siswa atau peserta didiknya. Melalui siswa inilah keberhasilan atau kegagalan seorang guru lebih mudah diketahui.
Boleh dikatakan, keberhasilan seorang guru sangat ditentukan oleh keberhasilan murid-muridnya. Begitu pula, kegagalan guru sering terjadi karena ketidakmampuannya memfasilitasi siswa mencapai hasil belajar secara optimal.
Bisa saja, misalnya dalam kondisi tertentu, guru menyalahkan siswa-siswinya yang tidak mau belajar. Atau bahkan menyalahkan orang tua yang tidak mau membimbing anak-anaknya belajar di rumah. Tapi dalam konteks pembelajaran di sekolah, kesalahan tetap ada pada guru. Bukankah guru adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan pembelajaran di kelas?
Taruhlah misalnya siswa tidak siap dengan materi pembelajaran, sehingga sulit mengikuti penjelasan guru. Dalam hal ini, bukankah guru juga memiliki tanggung jawab untuk mengetahui latar belakang siswanya, sehingga tahu kelebihan dan kekurangannya. Untuk menyegarkan ingatan tentang perlunya memahami indera belajar siswa ketika kita mengajar, coba cek kembali artikel tentang Memahami Indera Belajar Siswa. Dengan demikian, guru dapat mengambil tindakan yang tepat agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan sebaik-baiknya dan mencapai hasil yang terbaik. Jadi, guru memang harus benar-benar menjadi ayah atau ibu bagi murid-muridnya.
Sebagai orang tua, kita tidak pernah menimpakan kesalahan sepenuhnya kepada anak-anak kita ketika mereka melakukan kesalahan. Kita lebih sering mengambil tanggung jawab atas apa yang anak-anak kita tidak sanggup memikulnya. Ya, kita bisa melakukan ini karena kita mencintai anak-anak kita.
Guru pun sesungguhnya dapat melakukan hal yang sama, seperti orang tua berbuat kepada anak-anaknya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui “mengajar dengan cinta”. Dengan cinta, pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna. Dengan cinta, upaya guru dalam memfasilitasi siswa agar berhasil akan lebih bersungguh-sungguh, sehingga hasilnya pun akan lebih baik. Dengan cinta pula, guru lebih terkontrol ucapan dan tindakannya di depan kelas.
Ya, cinta memang bisa menjadi sumber energi positif bagi keberhasilan pembelajaran, bahkan bagi manajemen tingkat tinggi sekali pun. Guru yang mengajar dengan cinta, jelas lebih tinggi pengabdiannya bagi dunia pendidikan. Dengan pengabdian yang tinggi ini, tentunya keberhasilan lebih terjamin. Jelas, guru yang mampu mengajar dengan cinta ini akan menjadi guru yang profesional sekaligus bermartabat.


0 komentar:

Posting Komentar